Rabu, 04 April 2012

Mencegah Kekerasan Dan Dominasi Pasangan Dalam Berpacaran


Suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis Y, dan dia menceritakan bagaimana dia mengalami trauma dalam membangun hubungan dengan laki-laki. Dia telah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya selama 7 tahun (usia pacaran yang cukup lama). Bagaimana pacarnya melakukan tindakan pemukulan, intimidasi, mengontrol pertemanannya dan masih banyak tindakan yang menurut saya tidak masuk akal namun hal itu dialami oleh gadis ini. Kekerasan dalam hubungan bisa dimulai dengan tindakan yang polos. Kemudian lewat perilaku yang hampir tidak kentara, seorang gadis merasa begitu tersanjung dan romantis  - hal ini bisa berubah menjadi mimpi buruk.



Apakah kekerasan dalam pacaran remaja itu?
Kekerasan dalam pacaran atau abuse dating relationship kerap terjadi pada beberapa  hubungan remaja/pemuda hari ini. Pusat pencegahan dan kesadaran serangan seksual pada universitas Michigan di Ann Arbor mendefinisikan kekerasan dalam pacaran sebagai “penggunaan dengan sengaja taktik kekerasan dan tekanan fisik untuk mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan dan kontrol terhadap pasangan intimnya.”  Sebuah tindakan yang sengaja dilakukan untuk berbuat jahat kepada pacarnya. Kekerasan merupakan perilaku yang dipelajari dan benar-benar secara sadar. Kekuasaan dan kontrol, seperti pemukulan, intimidasi, tekanan menggunakan taktik kontrol dan paksaan untuk membuat korbannya tetap bersamanya.  Kita percaya bahwa seseorang belum dikatakan mengalami kekerasan, jika tidak ada memar, mata biru atau bahkan rahang atau tulang rusuk patah. Namun, sebelum kekerasan fisik terjadi dalam sebuah hubungan, kebanyakan selalu ada sejarah panjang kekerasan verbal dan emosional.

Apakah Putri Saya Dalam Bahaya? (Evaluasi bagi para orangtua yang memiliki anak putri yang sedang berpacaran dan mengalami kekerasan dalam berpacaran). Beberapa hal di bawah ini mungkin bisa menolong anda sebagai orangtua untuk memantau pacaran dari anak anda:
  • Sebelum putri saya bertemu pacarnya, ia punya lebih banyak teman dibandingkan sekarang.
  •  Nilainya menurun dalam beberapa minggu atau bulan terakhir.
  • Sebelum putri saya mulai berkencan dengan laki-laki itu, ia lebih ramah dan terlibat dalam keluarganya, aktivitas sekolah, atau tempat beribadat.
  • Putri saya sering menangis atau sangat sedih.
  • Jika laki-laki itu mengirim pesan singkat, ia harus segera menghubunginya.
  •  Laki-laki itu menyatakan cintanya di awal hubungan mereka.
  • Laki-laki itu cemburu ketika putri saya memandang sepintas lalu atau berbicara dengan laki-laki lain.
  • Laki-laki itu menuduhnya melakukan tindakan yang sebenarnya tidak dilakukannya.
  • Laki-laki itu agresif dalam area lain, ia meninju dinding atau lemari, meninju untuk menegaskan atau melempar benda-benda saat marah.
  • Laki-laki itu sering bertindak kasar atau bermain gulat-gulatan dengannya.
  • Putri saya berdalih atas perlakuan buruk pacarnya atau mengatakan itu salahnya.
  • Mereka berbicara lewat telfon beberapa kali sehari atau dalam jangka waktu yang lama.
  • Laki-laki itu punya kehidupan rumah tangga yang “tragis”: ia disiksa secara fisik atau direndahkan secara verbal, dan atau salah satu atau kedua orangtuanya pecandu alkohol atau pengguna obat-obatan.
  •  Laki-laki itu peminum atau pengguna obat-obatan.
  •  Laki-laki itu sering memberi “nasihat” tentang bagaimana memilih teman, gaya rambut, baju atau riasan wajah.
  •  Laki-laki itu memanggil dengan sebutan buruk, kemudian tertawa dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda atau mengatakan bahwa putri anda terlalu sensitif.
  • Putri anda menjadi penuh rahasia sejak berkencan dengan laki-laki itu.
  • Putri anda begitu menderita kapan pun ia berpisah dengan laki-laki itu.
  • Putri anda menjadi begitu kritis pada penampilan, bakat dan kemampuannya.
  • Putri anda sering harus menjelaskan panjang lebar kepada pacarnya atau sering meminta maaf.
  • Ada memar yang tidak dapat ia jelaskan atau ia tampak tegang, saat menjelaskannya kepada anda. 
Sebuah hubungan mungkin mencapai tingkat kekerasan ini dan tidak berlanjut, tapi diakui bahwa kekerasan verbal dan emosional merupakan jalan menuju kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual. Si penyiksa tidak perlu selalu mengacungkan tinju untuk mendapatkan kekuasan dan kontrol atas putri anda, seringkali dengan tatapan yang mengancam saja sudah cukup.
Kekerasan verbal dan emosional dapat menjadi tipe kekuasaan dan kontrol yang paling merusak. Dalam situasi ini, anak laki-laki secara sistematis merendahkan rasa harga diri putri anda dengan memanggilnya dengan sebutan buruk, menyalahkannya atas kesalahan laki-laki itu, membuat tuduhan, mempermalukannya di depan umum, menghancurkan benda-benda yang spesial baginya, mengatakan ia gila, menggunakan tatapan yang mengancam dan mengintimidasi.

Mengapa Kekerasan Dalam Pacaran Remaja Begitu Umum?
Kita perlu menydari bahwa remaja sangat bergantung pada penerimaan teman sebayanya. Seringkali untuk kebutuhan penerimaan ini, seorang gadis tidak menyadari bahwa dia telah mengalami tindakan kekerasan dari pacarnya. Dan seringkali pacar penyiksa yang cemburu dan posesif dianggap sebagai tanda cinta dan kesetiaan.  Disini remaja perlu untuk memiliki kontak dengan orang dewasa yang matang.
Pola yang terjadi adalah dimana setelah pacar putri anda memperlakukan putri anda dengan kejam, laki-laki itu pasti meminta maaf, menyatakan cintanya dan tidak akan mengulanginya lagi. Anda dapat mengajukan bertanyaan berikut kepada putri anda untuk menetralkan argumentasinya:
  •  Apakah kamu pikir rasa takut harus menjadi bagian dari hubungan cinta?
  •  Apakah kamu pikir normal bahwa anak perempuan dalam hubungan yang baik harus menghabiskan begitu banyak waktu dengan menangis?
  • Mengapa kamu harus memberitahukannya setiap kali kamu pergi?
  • Mengapa ia boleh memanggilmu dengan sebutan buruk dan membuatmu merasa buruk terhadap dirimu sendiri?
  •  Apakah semua ini perilaku romantis?

Jika anda mencurigai memar, luka atau benjolan pada putri anda, anda perlu segera mengonfrontasinya. Kekerasan fisik diawali dengan dorongan ringan atau kekangan  sehingga ia akan menuruti apa yang diminta oleh anak laki-laki itu. Pria dewasa penyiksa telah berlatih selama bertahun-tahun sehingga mereka mahir dalam memukul pasangannya di tempat-tempat yang buktinya  tidak dapat dilihat orang lain: dada, perut, paha bagian atas.  Dalam banyak kasus, remaja penyiksa belum belajar seni itu, dan anda dapat melihat tanda-tanda kekerasan fisik di lengan, kaki, leher, dan wajah. Jika ia tetap menyangkal, anda bisa bertanya kepadanya, “Mengapa kamu bertahan?” Ketika ia muncul dengan dalih bahwa kadang pacarnya baik. Namun Cinta dan ketakutan tidak mungkin hadir berdampingan. Tidak mungkin cinta dan kesedihan yang mendalam berdampingan.

Membangun Pacaran Yang Sehat. 
Untuk hubungan pacaran yang sehat harus memperhatikan dua hal ini:
Pertama, setiap pasangan dalam hubungan itu harus punya citra diri positif. Sekali anda merasa kuat dan yakin pada diri sendiri, anda akan lebih mampu mengetahui apa yang dicari pada pasangan.

Kedua, anda harus waspada, selalu, bahwa cinta berkembang dalam berbagai tahap dan tidak dapat dipaksa. Sekali anda menemukan pasangan yang sesuai, jangan berusaha “mempercepat segala hal” dengan melewati tahap awal perkembangan. Saat-saat awal ini memberikan dasar hubungan yang kuat di kemudian hari.

Saya rasa penting sekali bagi setiap anak perempuan untuk memahami dengan jelas apa yang ia sukai dalam sebuah hubungan, perilaku yang ia harapkan dari dirinya dan pacarnya. Seringkali, anak perempuan tidak memikirkan  apa yang mereka sukai ketika berpacaran. Mereka biasanya berusaha menyenangkan pacar mereka sehingga mereka akan tetap bersamanya. 

Sumber:
Abusive Dating Relationship, but I Love Hi.
 Dr. Jill Murray                                                                                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar