Kamis, 05 April 2012

Ketika Anak Supir Taksi “Ngotot” Minta Dibelikan BlackBerry

 Tantangan kehidupan remaja masa kini sangat berat. Salah satunya  adalah soal gaya hidup. Budaya hedonis dan konsumtif menekan emosi anak-anak yang masih usia sekolah. Mereka menjadi tergoda memiliki barang yang belum mereka butuhkan. Pada masa pubertas, pendapat dan pandangan teman-teman menjadi sangat penting, Akibatnya  mereka menjadi  minder jika tidak bisa “sama” atau mengimbangi teman, termasuk soal kepemilikan benda.

Dalam kondisi ini banyak orangtua menjadi “pusing” mendengarkan ocehan permintaan anak yang memberatkan Ortu. Sebab mereka tahu si anak belum butuh barang tersebut, tetapi hanya ingin karena teman-temannya sudah memilikinya. Belum lagi ekonomi mereka pas-pasan.

Saya ingin membagikan  kisah  dari dua orang Bapak yang bekerja sebagai supir.
Pertama, kisah Pak Jonner
Bulan  Januari lalu seorang supir taxi yang membawa saya dari Semarang ke Salatiga bercerita tentang anaknya. Sebutlah namanya Pak Jonner. Dia sudah memiliki taxi sendiri dengan cara mencicil lewat satu koperasi. Pak Jonner  punya  dua anak  kembar, keduanya perempuan dan duduk di kelas 3 SMU.  Anak yang satu ngotot minta motor, karena merasa tergantung dengan antar-jemput Bapaknya. Karena Sang Ayah bawa taksi, bisa tak tentu jemputannya. Bagi Pak Jonner dan istrinya seorang pegawai negeri masih bisa diterima.

Mereka berusaha  mencicil motor dengan harapan bisa dipakai kedua putri mereka. Untuk sekolah dan pergi les. Tentu kondisi ekonomi yang semakin berat, sementara harus mencicil taxi ke koperasi 3 jutaan perbulan. Yang membuat Pak Jonner pusing adalah ketika anak yang satu ngotot dibeliin Blacberry. Padahal dia sudah punya HP Nokia yang belum lama dibeli Papanya.  Nah, untuk ini Pak Jonner belum bisa memenuhi keinginan anaknya. Saat negosiasi akan dibeliin tipe gemini, anaknya ogah dan minta yang tipe Bold. Jonner berkata pada anaknya, “Nduk nduk…Bapakmu supir taxi ngene kok kowe neko-neko…” Jonner cukup stres menghadapi rengekan anaknya setiap hari. “Kok anakku ini tidak tahu bapaknya supir taxi, mintanya macam-macam…duhhh pusing…!”, keluh Pak Jonner.

Kedua, kisah Pak Costa
Tahun lalu, saya mendengar curhat  Pak Costa (Samaran). Costa juga seorang supir (pribadi). Dia menjemput saya atas perintah majikannya membawa saya  ke sebuah acara seminar Anaknya masih duduk di kelas II SMP, mendesak Pak Costa beliin HP baru. Ini curhatnya “Pak, anak jaman sekarang susah dibilangin. Maunya ikut teman. Temannya punya HP dia minta dibeliin HP. Temannya ganti HP yang bisa buat foto, dia minta ganti HP. Anak saya masih di II SMP minggu lalu bilang HPnya rusak. Sekarang minta HP yang harganya 600 ribu supaya bisa foto, internet dll. Wah, saya saja nggak tahu itu internet. Dia sudah seminggu nangis-nangis minta HP baru. Saya terpaksa mau pinjam sama majikan. Semoga saja dikasi. Ah, bingung Pak ngadapin anak jaman sekarang…”

Itulah dua contoh pergumulan orangtua yang punya anak remaja yang masih sekolah. Sebagai seorang supir mereka berjuang untuk menghidupi keluarga, sekolah, makan dan lain-lain. Namun sekarang dengan gaya hidup anak sekolah, anak mereka tak luput mendapat godaan dan tantangan untuk menjadi “seseorang” supaya diakui.  Ada perasaan malu jika mereka tidak bisa seperti temannya.

Pengalaman pribadi
Anak sulung kami, Jo, beberapa tahun lalu mendapat bea siswa di sebuah sekolah internasional di jakarta. Lewat proses ujian yang sangat berat. Pasca liburan lebaran waktu dia masih  di kelas I SMU, sulung kami curhat. Dia sedih mendengar teman-temannya bercerita pada liburan ke luar negeri. Ada yang ke Amerika, Eropah, ada yang ke Ausie,  ke Singapura atau Hongkong. Sementara dia kami bawa liburan saat itu ke Solo. Dia sempat merasa minder. Lalu, kami mencoba mendengarkan saja curhatnya Jo. Kami jelas ikut prihatin. Setelah dia curhat, kami membagikan perasaan dan pendapat kami.  Kondisi kami orangtuanya memang tidak sama dengan keluarga teman-temannya. Puji syukur Jo bisa  mengerti dan menerima.

Bukan hanya itu. Selama dia sekolah disana, ada dua  hal yang membanggakan kami. Pertama, Jo membawa makanan alias bontot dari rumah setiap hari (menurut Jo hanya dua dari 24 anak yang bawa makanan, lainnya jajan). Sebab uang jajannya yang Rp. 10.000/hari tidak cukup beli jajan di sekolahnya. Kedua, sementara HP temannya bagus-bagus, HP si Jo tipe Nokia paling murah seharga 290 ribu. Hanya bisa untuk SMS dan Telpon. Tetapi  bagi Jo itu cukup dan dia menggunakan HP itu sampai tamat SMU.

Penutup
Menghadapi seperti ini, setiap orangtua perlu menyiapkan anak-anak sejak dini. Diantaranya menanamkan nilai hidup dan membangun harga diri mereka. Juga  Membangun kecerdasan emosi, supaya anak punya empati dan kesadaran diri terhadap kondisi orangtua. Hal lainnya adalah mengajarkan  pola hidup hemat, dan menjadi contoh bagi mereka. Akhirnya menjadi sahabat bagi mereka.

Penulis ::
Julianto Simanjuntak adalah dosen bidang konseling keluarga@Jaffray. Terapis masalah kesehatan mental di Pelikan. Telah menulis 15 buku konseling Silahkan follow @JuliantoWita. 
Web: http://www.juliantosimanjuntak.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar